Senin, 22 Mei 2017

Debat Imam Abu Hanifah Dengan Ilmuan Kafir

Kisah berikut ini adalah penuturan dari Imam Abu Hanifah. Pada zaman itu, ada seorang ilmuan besar yang sangat terkenal. Sayangnya,ilmuan kebangsaan Romawi ini seorang ateis dan menolak mentah-mentah keberadaan Tuhan.
Ketika itu, para ulama diam saja dan tidak berusaha menyadarkan si ilmuan. Tentu saja tidak semua ulama diam, masih ada yang peduli dengan keadaan tersebut. Hal ini bisa berbahaya jika membiarkan si ilmuan mempengaruhi akidah umat. Ulama yang dimaksud adalah guru Abu Hanifah yang bernama Hamad.
Pada suatu hari, orang-orang sudah berkumpul di sebuah masjid. Si ilmuan naik mimbar dan menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya. Ada maksud ter sembunyi dibalik tantangan itu. Sesungguhnya, dia bermaksud menjatuhkan para ulama dengan argument-argumen yang rasional.
Si ilmuan semakin congkak, apalagi setelah tantangannya tak tersambut. Dia menyangka semua ulama itu pengecut sehingga tidak ada seorang pun yang berani menyambut tantanganya. Hal ini semakin diperkuat dengan suasana di dalam masjid yang tiba-tiba hening. Beberapa orang saling Pandang, ada pula yang mengarhkan pandangan ke deretan paling depan tempat beberapa ulama duduk.
Dari sekian banyak hadirin, ada seorang pemuda yang merasa sebal melihat kecongkakan si ilmuan. Namun, dia berusaha menahan diri,barang kali ada seorang ulama senior yang berani tampil menghadapi tantangan itu.
Sang pemuda menunggu lama. Setelah yakin tidak ada yang mau maju, barulah dia berdiri dan melangkah menuju mimbar.
“Saya Abu Hanifah, siap berdebat dengan Anda,” kata sang pemuda sambil memperkenakan diri.
Semua mata hadirin tertuju ke arah Abu Hanifah. Mereka merasa heran melihat keberanian sang pemuda. Beberapa orang mengatakan salut kepada Abu Hanifah, si ilmuan sendiri merasa heran melihat keberanian Abu Hanifah. Akan tetapi, kebanyakan hadirin bersikap sinis terhap Abu Hanifah dan menyepelekan kemampuannya. Ada pula yang mempertanyakan motif Abu Hanifah tampil kedepan. Apakah sekedar asal Tampil, membuat sensasi, atau mencari popularitas.
Wajah Abu Hanifah tetap tenang. Beliu tidak terpengaruh oleh berbagai bisikan yang ada, termasuk yang bernada miring sekalipun. Sikap Abu Hanifah sangat rendah hati. Dia menahan diri untuk berbicara karena masih terlalu muda, sementara didalam masjid masih ada beberapa ulama senior yang mau meladeni tantangan si ilmuan . Sayang, tidak ada seorang pun dari mereka yang mau naik ke nimbar.
“Silahkan anda yang memulai,”ujar Abu Hanifah mempersiahkan dengan sopan.
“Tahun berapa Tuhan kamu dilahirkan?” Tanya ilmuan kafir.
“Allah tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan,” jawab Abu Hanifah.
“hmm, masuk akal jika dikatakan Allah tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Lalu, tahun berapa dia ada?”
“Dia ada sebelum segala sesuatu ada,” tegas Abu Hanifah.
“Bisa berikan contoh kongkret tentang hal ini?”
“Anda tahu tentang perhitungan?” Abu Hanifah balik bertanya.
“iya, saya tahu.”
“Angka berapa sebelum angka satu ?”
“Tidak ada,” jawab ilmuan kafir. ( pada masa itu angka nol dan negative belum ditemukan)
“Tidak ada angka lain yang mendahulaui angka satu. Lalu, mengapa anda bingung bahwa sebelum Allah itu tidak ada suatupun yang mendahului-Nya?
”Baiklah. Sekarang, dimana Allah berada? Sesuatu yang berwujud pasti membutuhkan tempat, buakan?” lanjut ilmuan.
“Apakah di dalam susu itu terdapat keju ?”
“Ya, tentu.”
“Kalau begitu, coba perlihatkan dimana tempat keju itu sekarang!”
“Jelas tidak ada tempat khusus. Keju itu bercampur dengan susu di seluruh bagiannya,” jawab si ilmuan dengan semangat.
“Nah,keju saja tidak meliki tempat khusus di dalam susu Tidak sepatutnya anda meminta saya untuk menunjukkan tempat Allah berada.”
“Tolong jelakan Dzat Allah. Apakah wujud Allah itu benda padat seperti batu, benda cair seperti susu, atau kah seperti gas?”
“Anda pernah mendampingi orang sakit yang akan meninggal dunia?”
“Pernah.”
“Awalnya, orang sakit itu bisa bicara dan bisa menggerakkan anggota badannya, bukan ?”
“ya, memang demikian halnya.”
“Tetapi, kenapa tiba-tiba orang sakit itu diam tidak bergerak? Apa yang menyebabkan hal itu?
Jelas itu karena ruh orang tersebut telah berpisah dari tubuhnya.”
“Sewaktu roh itu keluar, Apa kah Anda masih berada disana?”
“Saya masih di sana.”
“Coba jelaskan, apa ruh orang tersebut benda padat, cair atau gas?”
“Wah, kalo itu saya tidak tahu.”
“Anda sendiri tidak dapat menerangkan bentuk ruh, apalagi saya yang harus menerangkan Dzat Allah yang menciptakan ruh.”
Lazimnya, sesuatu itu mempunyai arah. Kemanakah Allah menghadapkan wajah-Nya sekarang?” tanya si ilmuan lagi.
“Apabila anda menyalakan lampu, ke arah manakah cahaya lampu itu menghadap?”
“Cahayanya menghadap kesemua arah.”
“Lampu yang buatan manusia saja seperti itu, apalagi dengan Allah sang pencipta alam semesta. Allah adalah cahaya langit dan bumi.”
“Ada awal dan ada akhir. Seorang masuk surga itu ada awalnya, tetapi kenapa tidak ada akhirnya? Mengapa surga dan para penghuninya itu kekal abadi?” Kata si ilmuan melanjutkan pertanyaanya.
“Untuk hal itu, Anda bisa membandingkannya dengan perhitunan angka. Angka itu ada awalnya, tetapi tidak ada akhirnya.”
“Terus, bagaimana para penghuni surga itu makan dan minum tanpa buang hajat?”
“Ini pernah anda alami saat anda didalam rahim ibu. Selama Sembilan bulan anda makan dan minum tanpa buang hajat. Anda baru buang air besar dan buang air kecil beberapa saat setelah terlahiir kedunia.”
“Tolong jelaskan, bagaimana kenikmatan surga itu bisa terus bertambah tanpa ada habisnya!”
“Ada banyak hal yang semacam itu di dunia ini. Misalnya, ilmu. Ilmu tidak akan habis atau berkurang ketika dimanfaatkan, malah semakin bertambah.”
“Jika segala sesuatu telah ditakdirkan sebelum diciptakan,lalu apa pekerjaan Allah sekarang?”
“Sejak tadi Anda menjawab pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya hanya menjawab dari atas lantai masjid ini. Kali ini untuk menjawab pertanyaan Anda, saya mohon anda turun dari mimbar. Saya akan menjawab pertanyaan anda tadi dari atas mimbar.”
Kemudian si ilmuan turun dari mimbar. Sementara Abu Hanifah naik ke mimbar.
“Saudara-saudara, dari atas mimbar ini saya akan mejawab pertanyaan tadi . Bisa Anda ulangi pertanyaanya?” Tutur Abu Hanifah setelah berada di atas mimbar masjid.
“Apa pekerjaan Allah sekarang ?” kata si ilmuan meyebutkan inti pertanyaan.
“Pekerjaan Allah tentu saja berbeda dengan pekerjaan makhluk. Ada pekerjaan-Nya yang bisa dijelaskan dan ada pula yang tidak bisa dijelaskan. Pekerjaan Allah sekarang adalah menurunkan orang kafir seperti Anda dari atas mimbar, kemudian menaikkan seorang Mukmin ke atasnya. Seperti itulah gambaran pekerjaan Allah setiap waktu.”

Akirnya, hadirin yang ada di dalam masjid merasa puas dengan jawaban-jawaban Abu Hanifah. Jelas, lugas , tegas, dan mudah dipahami, bahkan orang awam sekalipun.