Sabtu, 09 Januari 2016

NASI GOYENG






Pada suatu malam, di suatu komplek. Lamat-lamat terdengar  penjual nasi goreng akan lewat.Theng theng theng.
Dalam sebuah keluarga. Ada seorang anak kecil berusia lima tahun merengek untuk dibelikan nasi goreng. Tapi karena bapak dan ibunya sedang repot sang anak diminta untuk beli sendiri. Dia pun setuju. Dipanggilnya penjual nasi goreng itu…
“Bang, beli nasi goyeng satu…” Mendengar ucapan si bocah, abang nasi itu langsung ketawa terbahak-bahak. Hahahaha. Dan agak meledek.
Merasa tersinggung, si anak mengurungkan niatnya untuk membeli nasi goreng. Selama seminggu, sibocah latihan sangat keras sambil teriak-teriak untuk bisa mengubah kata goyeng menjandi goreng. Goyeng, goyeng, goreng, goyeng, gepeng, eh.., goreng, goreng, goreng, aha bisa! Sampai-sampai seluruh isi rumah jadi bingung.
Setalah seminggu, si anak beranikan untuk bertemu dengan abang nasi goreng lagi.
“Bang, beli nasi goreng.” Di ucapkan dengan sangat hati-hati. Dan abang itu tidak lagi ketawa. Hati si anak sangat puas.
“Telornya dicepok atau didadar, Dek?” Tanya abang itu.
“Didadal, Bang!” Si bocah, jawab dengan cepat.
“Hahahaha, didadal!” Abang nasi goreng ketawa lagi. Dia melakukan persis pertemuan pertama kali. Dan si bocah, mengalami hal yang sama juga. Dilecehkan. Tapi tekad semakin kuat menaklukkan abang nasi goreng.
Dia berlatih seminggu penuh untuk bisa bilang dadar dengan fasih. Dan lagi-lagi seluruh penghuni rumah di buatnya bingung dan ketawa. Seminggu kemudian dia temui lagi abang itu.
Dengan sangat hati-hati  dia bilang ke penjual nasi itu. “Bang, Beli Nasi goreng, didadar!” hatinya begitu puas, abang itu tidak akan lagi menertawakannya.
Abang itu pun langsung membuatkan pesanan si anak. Nasi goreng pakai telur didadar! Setelah jadi dikasihkan bungkusan itu ke si bocah. Dan si bocah ngasih uang lima ribuan ke abang itu.
“Dek, kalu uangnya lima ribu . Sedangkan harga nasi gorengnya emat ribu lima ratus rupiah, Jadi sisa berapa?” Pura-pura tanya si penjual nasi goreng, dan kelihatan sekali ada niatan nggak bener yang ditangkap juga oleh si anak.
“Jangan jawab dulu. Aku belum bisa bilang limaratus. Kalo aku bilang pasti dia akan menertawaiku lagi. Pikir dulu.” Bisik hati si anak.
Dengan senyuman siap ketawa terbahak-bahak, si abang mengulang pertanyaan itu sampai tiga kali. ”Dek jadi sisanya berapa?
Si anak masi berpikir keras. Dia tidak ingin abang itu menang lagi malam ini. Dia sudah bosan diketawain.
“Dek, Kalau uangnya lima ribu, sedangkan harga nasi goreng empat ribu lima ratus rupiah, jadi sisanya berapa?” Sampai mendekat kewajah si anak yang lagi bingung, karena nggak bisa bialang lima ratus.
Eeh, tiba-tiba si anak tersenyum. Dia panggil abang itu.
Sambil teriak keras-keras, dia jawab juga, “Sisanya GOPEK, Bang!” Aha, akhinya bisa juga.
Si abang malu. Sambil garu-garuk kepala  diberikannya sisa uang itu ke anak itu. Malam itu si anak makan nasi goreng telor dadar dengan sangat puas, apa lagi masih ada uang gocap untuk beli pelmen kalet Eeeh, Permen karet! Hehehehe.
Bermula dari diketawakan, tapi dari diketawakan itulah dia mau benar-benar berlatih dan akirnya dia bisa mendapatkan apa yang dia ingin kan. Bahkan karena sudah terlalu sering dan merasa tidak enaknya di ketawakan, muncul kreatifitas dan strategi agar tidak diketawakan  hingga yang kesekian kalinya. Dan dia mampu belajar dari kesalahan yang sudah-sudah. Dan ia berhasil!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar