Pada suatu malam, di suatu komplek. Lamat-lamat terdengar penjual nasi goreng akan lewat.Theng theng
theng.
Dalam sebuah keluarga. Ada seorang anak kecil berusia lima tahun merengek
untuk dibelikan nasi goreng. Tapi karena bapak dan ibunya sedang repot sang
anak diminta untuk beli sendiri. Dia pun setuju. Dipanggilnya penjual nasi
goreng itu…
“Bang, beli nasi goyeng satu…” Mendengar ucapan si bocah, abang nasi itu
langsung ketawa terbahak-bahak. Hahahaha. Dan agak meledek.
Merasa tersinggung, si
anak mengurungkan niatnya untuk membeli nasi goreng. Selama seminggu, sibocah latihan sangat keras sambil
teriak-teriak untuk bisa mengubah kata goyeng menjandi goreng. Goyeng, goyeng,
goreng, goyeng, gepeng, eh.., goreng, goreng, goreng, aha bisa! Sampai-sampai
seluruh isi rumah jadi bingung.
Setalah seminggu, si anak beranikan untuk bertemu dengan abang nasi goreng
lagi.
“Bang, beli nasi goreng.” Di ucapkan dengan sangat hati-hati. Dan abang
itu tidak lagi ketawa. Hati si anak sangat puas.
“Telornya dicepok atau didadar, Dek?” Tanya abang itu.
“Didadal, Bang!” Si
bocah, jawab dengan
cepat.
“Hahahaha, didadal!” Abang nasi goreng ketawa lagi. Dia melakukan persis
pertemuan pertama kali. Dan si bocah, mengalami hal yang sama juga. Dilecehkan.
Tapi tekad semakin kuat menaklukkan abang nasi goreng.
Dia berlatih seminggu
penuh untuk bisa bilang dadar dengan fasih. Dan lagi-lagi seluruh penghuni
rumah di buatnya bingung dan ketawa. Seminggu kemudian dia temui lagi abang
itu.
Dengan sangat hati-hati dia bilang
ke penjual nasi itu. “Bang, Beli
Nasi goreng, didadar!” hatinya begitu puas, abang itu tidak akan lagi
menertawakannya.
Abang itu pun langsung membuatkan pesanan si anak. Nasi goreng pakai telur didadar! Setelah jadi dikasihkan
bungkusan itu ke si bocah. Dan si bocah ngasih uang lima ribuan ke abang itu.
“Dek, kalu uangnya lima ribu . Sedangkan harga nasi gorengnya emat ribu
lima ratus rupiah, Jadi sisa berapa?” Pura-pura tanya si penjual nasi goreng,
dan kelihatan sekali ada niatan nggak bener yang ditangkap juga oleh si anak.
“Jangan jawab dulu. Aku belum bisa bilang limaratus. Kalo aku bilang pasti
dia akan menertawaiku lagi. Pikir dulu.” Bisik hati si anak.
Dengan senyuman siap ketawa terbahak-bahak, si abang mengulang pertanyaan
itu sampai tiga kali. ”Dek jadi sisanya berapa?”
Si anak masi berpikir keras. Dia tidak ingin abang itu menang lagi malam
ini. Dia sudah bosan diketawain.
“Dek, Kalau uangnya lima ribu, sedangkan harga
nasi goreng empat ribu lima ratus rupiah, jadi sisanya
berapa?” Sampai mendekat kewajah si anak yang lagi bingung, karena nggak bisa
bialang lima ratus.
Eeh, tiba-tiba si anak tersenyum. Dia panggil abang itu.
Sambil teriak keras-keras, dia jawab juga, “Sisanya GOPEK, Bang!” Aha,
akhinya bisa juga.
Si abang malu. Sambil garu-garuk kepala
diberikannya sisa
uang itu ke anak itu. Malam itu si anak makan nasi goreng telor dadar dengan
sangat puas, apa lagi masih ada uang gocap untuk beli pelmen kalet Eeeh, Permen
karet! Hehehehe.
Bermula dari diketawakan, tapi dari diketawakan itulah dia mau benar-benar
berlatih dan akirnya dia bisa mendapatkan apa yang dia ingin kan. Bahkan karena
sudah terlalu sering dan merasa tidak enaknya di ketawakan, muncul kreatifitas
dan strategi agar tidak diketawakan
hingga yang kesekian kalinya. Dan dia mampu belajar dari kesalahan yang
sudah-sudah. Dan ia berhasil!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar