Pagi yang indah, Burung-burung bernyanyi menyambut
datangnya pagi , butiran-butiran embun membasai daun-daun yang hijau, Angin yang berhembus
lembut dan sinar matahari yang masih samar-samar menambah keindahan dan
kesejukan pagi ini, betapa sempurna ciptaan Yang Maha Kuasa. Minggu pagi, aku
dan sahabatku, Ririn Indriyani jogging di
sekkitar Taman Kota. Oh.. iya, perkenalkan nama ku Anis Auliya Putri. Aku
adalah anak semester akhir di sebuah Universitas ternama di Yogjakarta. Yogyakarta,
itu lah kotaku, kota yang istimewa. Selama sebulan ini kami disibukkan dengan sekripsi kami masing-masing. Dan hari
ini kami ingin sejenak melupakan itu. Ketika
aku lelah mengunakan otakku aku akan coba menggunakan tubuhku. Karena itu lah aku dan
Ririn lari pagi, minggu ini.
“Nis Pelan-pelan dong, Aku capek.. !”Ririn mulai merengek kecapean,
padahal belom ada 10 menit lari, dia udah kecapean. Mungkin karena badannya
yang terlalu montok kali ya, hehe..
“Itu perut kenapa ngak ditinggal aja tadi dirumah.
Hahahaha…”
“Kamu ini, ngawur.
Aku udah ngak kuat nih, berhenti dulu ya?” Kata Ririn dengan muka yang memelas
“Ya udah, kita cari tempat yang teduh dulu” Jawabku sambil
Melihat sekeliling mencari tempat yang teduh.
“Udah di Bawah pohon situ aja.” Ucap Ririn sambil menarik tanganku.
Matahari mulai naik perlahan menapakkan Wajahnya, Angin
masih berhembus semilir menghangatkan udara pagi ini, anak-anak masih bermain
ria di taman itu. Para orang tua dengan
sabar menunggu anak-anaknya. Ada rasa bahagia melihat kecerian anak-anak itu.
“Melihat mereka jadi ingat masa kecil, ya Nis. Kemana pun kita pergi orang tua kita selalu mendampingi.”
Belum sempat aku menanggapi Ririn sudah mengganti tema
pembicaraan.
“Beli Eskrim, enak kayaknya Nis, Tu ada tukang ekrim.” Sambil menelan ludahnya
Ririn segera bergegas menuju Gerobak eskrim yang tidak jauh dari tempat
kimi duduk.
“Hmmmm… kamu kalo
sama makanan ngak pernah ada capeknya. Rin sekalian aku ya..?”
Tidak beberapa lama Ririn pun kembali.
“Nis ini buat kamu..”
“Emmm.. Makasih ya...
Tiba-tiba mata Anis tertuju pada penjual eskrim tadi. Ada
seorang anak mendekati pejual eskrim itu.
Ada yang aneh dangan anak itu. Penjual eskrim itu seperti
memarahi anak itu
“Maaf ada apa ini pak ?” Tanyaku kepada pejual es
tersebut.
“Ini mbak, anak ini minta eskrim, sudah saya kasih satu, tapi
dia mita lagi.”
“Ya udah, kasih aja pak, biar nanti saya yang bayar.”
Setelah mendapatkan eskrim itu dia berlari meniggalkan Kami. Karena penasaran Aku mengikutinya. Tak disangka Anak itu memberikan eskrim itu
kepada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang sedang menagis. Melihat itu aku tersenyum bahagia, sampai tak terasa air mata ku keluar
Kenapa kakak menagis? Tanya anak itu yang kembali
menghampiri ku.
Anis jongkok dan hanya menggeleng.
“Kakak sekarang sudah menjadi sebaik-baiknya manusia.”
Kata anak itu dengan muka yang ceria.
“Oh, ya..? Kok bisa gitu?”
“Iya, kerena kata Ibuku. Sebaik-baiknya manusia yaitu yang bisa
bermanfaat bagi orang lain. Kakak ini cantik sama kaya ibu ku?”
“Mana ibu adek? Kakak pengen liat dong ibunya?”
“Disana !” Sambil menujukkan tangan keatas seraya berkata.
Di Surga Kak.”
Air
mataku makin meleleh, mendengar perkataan anak itu.
“Dan ini hadiah untu kakak. Anak itu mecium keningku. kemudian dia berlari. Da da.. Kak Cantik” sambil melambaikan kedua
tangannya. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya. Kemudian anak tadi menghampiri sepasang suami istri, yang
sudah tua.
“Mungkin itu adalah kakek dan neneknya.”
Pikirku dalam hati. Aku masih bengong terkagum dengan
kelakuan anak tadi. Dia mengingatkan kan ku akan sosok Ayah dan Ibuku. Dulu Mama pernah bercerita kalo Ibuku Pernah berkata.
“ Fungsi manusia adalah berbagi, menjadi yang
paling banyak berbagi, berbakti, dan paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”
Aku dilahirkan dalam keluarga yang kecukupan. Papa seorang Pengusaha,dan
Mamaku adalah seorang Dosen.
Masa kecil ku begitu bahagia bersama
dengan kedua orang tua ku ini. Apa yang aku ingin kan hampir
semua terpenuhi. Hingga pada ulang tahunku yang kedua puluh. Aku di ajak Papa
dan Mama ziarah di pemakaman yang letaknya lumayan jauh dari rumahku.
“Ma,Pa , Ini makam siapa? Tanyaku pada mereka.”
“Mereka pasti bangga
jika melihat kamu tumbuh menjadi gadis yang pintar dan cantik.” Jawab
Mama membuatku semakin bingung.
“Anis ini lah Ayah
dan Ibumu yang sebenarnya, mereka meninggal karena kecelakaan. Saat itu kami menemukan
kamu di pelukan ibumu. Ayah kamu dulu adalah teman bisnis Papa. Mereka sempat
dibawa kerumah sakit dan sebelum meninggal mereka berpesan agar kami merawat bidadari kecilnya. Maaf, Papa dan Mama baru bisa ngasih tau sekarang.
Saat itu aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa menangis, aku cium batu nisan Ayah dan Ibuku. Aku belum
sempat membalas budi merka, aku belum sempat membuat mereka bahagia. Satu-
satunya hal yang bisa ku lakukan adalah mendoakannya, agar mereka di Surga. Disaat-saat terahir pun ibu masih
melindungiku. Aku bangga, bangga dengan orang tua yang telah melahirkanku dan bangga dengan orang tua yang telah membesarkanku. Aku
sayang kalian. Terima
kasih Ayah, terima kasih Ibu. Mungkin aku
sudah tidak bisa memeluknya atu pun menciunnya didunia ini, tapi aku selalu
berdoa agar kami dipertemukan di Surga nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar