Sabtu, 09 Januari 2016

TUNGGU AKU DI SURGA




Pagi yang indah, Burung-burung bernyanyi menyambut datangnya pagi , butiran-butiran embun  membasai  daun-daun yang hijau, Angin yang berhembus lembut dan sinar matahari yang masih samar-samar menambah keindahan dan kesejukan pagi ini, betapa sempurna ciptaan Yang Maha Kuasa. Minggu pagi, aku dan sahabatku, Ririn Indriyani  jogging di sekkitar Taman Kota. Oh.. iya, perkenalkan nama ku Anis Auliya Putri. Aku adalah anak semester akhir di sebuah Universitas ternama di Yogjakarta. Yogyakarta, itu lah kotaku, kota yang istimewa. Selama sebulan ini kami disibukkan  dengan sekripsi kami masing-masing. Dan hari ini kami ingin sejenak melupakan itu. Ketika  aku lelah mengunakan otakku aku akan coba  menggunakan tubuhku. Karena itu lah aku dan Ririn lari pagi, minggu ini.
“Nis Pelan-pelan dong,  Aku capek.. !”Ririn mulai merengek kecapean, padahal belom ada 10 menit lari, dia udah kecapean. Mungkin karena badannya yang terlalu montok kali ya, hehe..
“Itu perut kenapa ngak ditinggal aja tadi dirumah. Hahahaha…”
“Kamu ini, ngawur. Aku udah ngak kuat nih, berhenti dulu ya?” Kata Ririn dengan muka yang memelas
“Ya udah, kita cari tempat yang teduh dulu” Jawabku sambil Melihat sekeliling mencari tempat yang teduh.
“Udah di Bawah pohon situ aja.” Ucap Ririn sambil menarik tanganku.
Matahari mulai naik perlahan menapakkan Wajahnya, Angin masih berhembus semilir menghangatkan udara pagi ini, anak-anak masih bermain ria di taman itu. Para orang tua  dengan sabar menunggu anak-anaknya. Ada rasa bahagia melihat kecerian anak-anak itu.
“Melihat mereka jadi ingat masa kecil, ya Nis. Kemana pun kita pergi orang tua kita selalu mendampingi.”
Belum sempat aku menanggapi Ririn sudah mengganti tema pembicaraan.
“Beli Eskrim, enak kayaknya Nis, Tu ada tukang ekrim.” Sambil menelan ludahnya  Ririn segera bergegas menuju Gerobak eskrim yang tidak jauh dari tempat kimi duduk.
“Hmmmm…  kamu kalo sama makanan ngak pernah ada capeknya. Rin sekalian aku ya..?”
Tidak beberapa lama Ririn pun kembali.
“Nis ini buat kamu..”
“Emmm.. Makasih ya...
Tiba-tiba mata Anis tertuju pada penjual eskrim tadi. Ada seorang anak mendekati pejual eskrim itu.
Ada yang aneh dangan anak itu. Penjual eskrim itu seperti memarahi anak itu
“Maaf ada apa ini pak ?” Tanyaku kepada pejual es tersebut.
“Ini mbak, anak ini minta eskrim, sudah saya kasih satu, tapi dia mita lagi.”
“Ya udah, kasih aja pak, biar nanti saya yang bayar.”
Setelah mendapatkan eskrim itu dia berlari meniggalkan Kami. Karena penasaran Aku mengikutinya.  Tak disangka Anak itu memberikan eskrim itu kepada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang sedang menagis.  Melihat itu aku tersenyum bahagia, sampai tak terasa air mata ku keluar 
Kenapa kakak menagis? Tanya anak itu yang kembali menghampiri ku.
Anis jongkok dan hanya menggeleng.
“Kakak sekarang sudah menjadi sebaik-baiknya manusia.” Kata anak itu dengan muka yang ceria.
“Oh, ya..? Kok bisa gitu?”
“Iya, kerena kata Ibuku. Sebaik-baiknya manusia yaitu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Kakak ini cantik sama kaya ibu ku?”
“Mana ibu adek? Kakak pengen liat dong ibunya?”
“Disana !” Sambil menujukkan tangan keatas seraya berkata. Di Surga Kak.”
Air mataku makin meleleh, mendengar perkataan anak itu.
“Dan ini hadiah untu kakak. Anak itu mecium keningku. kemudian dia berlari. Da da.. Kak Cantik” sambil melambaikan kedua tangannya. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya. Kemudian anak tadi menghampiri sepasang suami istri, yang sudah tua.
 “Mungkin itu adalah kakek dan neneknya.” Pikirku dalam hati. Aku masih bengong  terkagum dengan kelakuan anak tadi. Dia mengingatkan kan ku akan sosok Ayah dan Ibuku. Dulu Mama pernah bercerita kalo Ibuku Pernah berkata.
 “ Fungsi manusia adalah berbagi, menjadi yang paling banyak berbagi, berbakti, dan paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”
Aku dilahirkan dalam keluarga yang kecukupan. Papa seorang Pengusaha,dan Mamaku  adalah seorang Dosen. Masa kecil ku begitu  bahagia bersama dengan kedua orang tua ku ini. Apa yang aku ingin kan hampir semua terpenuhi. Hingga pada ulang tahunku yang kedua puluh. Aku di ajak Papa dan Mama ziarah di pemakaman yang letaknya lumayan jauh dari rumahku.
“Ma,Pa , Ini makam siapa? Tanyaku pada mereka.”
“Mereka pasti bangga  jika melihat kamu tumbuh menjadi gadis yang pintar dan cantik.” Jawab Mama membuatku semakin bingung.
 “Anis ini lah Ayah dan Ibumu yang sebenarnya, mereka meninggal karena kecelakaan. Saat itu kami menemukan kamu di pelukan ibumu. Ayah kamu dulu adalah teman bisnis Papa. Mereka sempat dibawa kerumah sakit dan sebelum meninggal mereka berpesan agar kami merawat bidadari kecilnya. Maaf, Papa dan Mama baru bisa ngasih tau sekarang.
Saat itu aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa menangis, aku cium batu nisan Ayah dan Ibuku. Aku belum sempat membalas budi merka, aku belum sempat membuat mereka bahagia. Satu- satunya hal yang bisa ku lakukan adalah mendoakannya, agar mereka di Surga.  Disaat-saat terahir pun ibu masih melindungiku. Aku bangga, bangga dengan orang tua yang telah melahirkanku dan bangga dengan orang tua yang telah membesarkanku. Aku sayang kalian. Terima kasih Ayah, terima kasih Ibu. Mungkin aku sudah tidak bisa memeluknya atu pun menciunnya didunia ini, tapi aku selalu berdoa agar kami dipertemukan di Surga nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar